Sabila melihatnya 'oh my god itu dia'...
Cowok cool di
sekolahnya. Cowok itu akan menyukainya balik?. Menurutnya itu tidak
mungkin terjadi, cowok seperti itu tidak akan memerhatikan cewek seperti
Sabila yang berambut panjang hitam lurus dengan kacamata. Lagipula
kelas mereka bersebelahan dan selalu saja bertemu muka, saat mau ke
kantin ataupun mau pulang.
Sabila punya seorang teman
yang dekat dengannya dan dia ada di kelas sebelah yaitu,Yuni. Mereka
selalu pulang sekolah bersama.. dan Yuni mengetahui kalau temannya ini
menaruh hati pada Irfan.
"Cie Sabila udah mulai ya..
ntar dia belum keluar, dia lagi piket,sab" Yuni menggoda Sabila yang
ingin melihat wajah Irfan keluar kelas, pipi Sabila pun memerah. Eh,
tiba-tiba Irfan keluar dari kelas.
"Yun, gua udah ya
piketnya" Irfan izin pulang sama Yuni, Yuni kan seksi kebersihan dia
harus berhasil membuat Irfan piket. Irfan mulai meninggalkan kelas dia
berbalik ke arah tangga untuk turun, namun kepalanya menoleh kebelakang
melihat ke Sabila heran. Sabila pun menunduk malu. Namun,Irfan berbalik
lagi dan melanjutkan menuruni tangga.
"Yuni, kenapa dia ngadep ke aku?" Sabila kegeeran itulah dia, hehe
"Dia heran aja kali, tiap pulang sekolah selalu ada kamu disamping aku" Yuni menjawab dgn senyum lebar
"Smoga aja dia nyadar, aku pengen ngomong sama dia walau sekaliii aja.." Sabila menghayal kepalanya terdongak ke atas
"Dia aja gak tau nama kamu,sab sab.. hehe piss" Yuni kembali menggoda
"suatu saat nanti dia pasti tau kok :p" Sabila melewek ke Yuni
Lalu mereka pulang menuruni tangga sambil bercakap-cakap tentang Irfan.
#
Keesokan
harinya senam, Sabila selalu mengambil barisan yang sama dengan Irfan.
Dia juga selalu memerhatikan Irfan senam, namun dia tidak puas, Irfan
selalu saja tidak menekuni senam dengan baik. Dia selalu saja diam saat
di beberapa gerakan tertentu katanya sih supaya tetap kelihatan cool.
*haha* Memang selama ini Sabila terlau menonjol bagi Irfan, irfan selalu
heran dengannya. Namun, saat Irfan mau melihatnya dia selalu menunduk.
Kali ini saat senam Irfan berniat memerhatikan anak itu, Irfan selalu heran dengannya.
#
Keesokan harinya,
"Anak-anak..
besok perpisahan kelas 9 kalian, kalian harus siap. Silakan memakai
pakaian formal, laki2 memakai jas dan yang perempuan harap memakai dress
panjang oke?" Bu Muji menjelaskan di depan kelas, sebenarnya ocehannya
panjang sekali, Sabila menanggapinya dengan serius karena itu sangat
penting. Ini juga berhubungan dengan Irfan, bagaimana kalau Sabila tidak
bertemu dengannya lagi? oh, hancur sudahh.. apalagi Sabila malu mau
mengucapkan salam perpisahan pada Irfan.. 'Tidak mungkin' katanya. Irfan
juga belum tau namanya, juga identitasnya, huh.
Sabila geregetan mau curhat sama Yuni ttg ini, dia nggak sabar nungguin istirahat.
#
Tettttt... bel istirahat akhirnya nongol juga.
Sabila keluar kelas, dia menuju IX D untuk memanggil Yuni, teman curhat sejatinya itu.
"Permisi,
ada Yuni nya nggak?" Sabila berkata dengan semanis mungkin, sesekali
membenarkan kacamatanya. Diam-diam dia celingak-celinguk nyari sosok
Irfan, eh ternyata.
"Tuh, Yuni nya... Woyy Yuniii.. ada
temen elo!" Suara Irfan ternyata yang membalasnya namun jauhh sekali
dari pintu tempat Sabila berdiri. Sabila kaget, tangannya mendingin.
Namun, segera terobati karena Yuni mulai mendekat.
"Apa,sa?"
Yuni mendekat ke arah Sabila dengan senyum nakal, Yuni menyadarinya dan
tertawa keras saat sudah di luar keras.. mereka sekarang di balkon
berpegangan di tiang menghadap ke bawah. Sabila memukuli Yuni dengan
wajah memerah, "Yuni! Yuni ini lohh!!! huh"
"Apasih tapi lo seneng kan?? ha ha ha ha.." Yuni menyahut kayak nggak ada dosa nya -_-
"Biarin ah,"
"kenapa manggil aku,sa?" tawa Yuni mulai berhenti namun masih ada sisanya sedikit *eh.
"Besok udah perpisahan yun :' hiks" Sabila ica-ica nangis, tapi memang sbenarnya dia pengen nangis sih.
"cup cup.. ya kenapa?? lo gak mau SMA??!"
"mau lah yun, tapi si Irfan belum tau apa-apa tentang gue,hiks" Sabila menunduk dan membenarkan kacamatanya.
"Kalo gitu kasih tau aja ke dia sekarang!"
"Tapi itu aneh yun, masa tiba-tiba gue ke depan dia abis itu bilang 'hey, gua sabila dari kelas sebelah' GITUU?? ANEH YUUN!"
"iyasih -_- pasti dia kaget yaak.. HA! kalo gitu gimana kalo gue aja yang ngomong!"
"terserah sih.."
Akhirnya,
mereka sepakat dan kedua teman itu mengucapkan satu sama lain dan
hampir menangis lalu tertawa lagi, Irfan melihat mereka dari jauh, namun
tak bisa mendegar semuanya. Dia semakin penasaran, dan rasa penasaran
itu akan dijawabnya besok saat perpisahan tiba.
#
Hari
perpisahan SMP Darma berlangsung dengan lancar, pertama disajikannnya
lah sambutan-sambutan dari para guru, ketua OSIS dan yang lainnya. Pada
saat acara hiburan, para peserta perpisahan diperblehkan beranjak dari
kursi menemui teman-temannya dan foto-foto. Tentu saja Sabila menemui
Yuni yang ada di dekat komplotan anak IX D, Sabila terlihat elegan
sekali kan dia orang kaya, keren deh dress nya pkoknya. Dia melepas
kacamatanya dan rambutnya di ikalin sedikit supaya terlihat gak terlalu
straight formal. Lagian di acara perpisahan gak baca buku apa apa kan,
yaudah tuh kacamata gausah diapake. Yah, berhasil deh si Sabila nyuri
perhatian Irfan apalagi sabila rese bener narik-narik Yuni untuk ke
tempat lain.
"Yunii.. ayook"
"Kemana, sa?"
"terserah"
"Gausah salting sih sa.."
"Huss"
"iya iya.."
Akhirnya
Yuni mengikuti sabila juga, Irfan hanya heran memandangi Sabila yang ke
gupekan. Irfan beranjak juga mengintili mereka. Dia melihat dari jauh
sambil ica ica minum soda.
"Udah udah cantik lo itu sa.."
"bukan itu, kamu udah kasih tau identitas aku ke dia?"
"belom"
"yah-_- koplak"
Sabila
dan Yuni merasa diawasi, mereka perasaan hanya berdua jauh dari
keramaian suara mikropon MC yng nyebelin. Itu Irfan namun mereka tak
menyadarinya.
"Lo liat sesuatu gak sa? atau denger gitu?"
"enggak yun, lanjut deh..."
"eh, entar gue kelupaan sesuatu. lo tunggu sini ya"
Yuni
meninggalkan sabila sebentar di sana.. sementara itu Sabila mengisi
kekosongan dengan mengupload stts, lewat Blackberry nya. Eh,Tiba-tiba..
Bunyi sepatu seseorang terdengar dari belakang Sabila, saat sabila
berbalik badan ternyata .. IRFANNN!
Sabila kaget, dia membeku dan
diam, pupil matanya mengecil dan tangannya kembali mendingin. Irfan
menatapnya sinis penuh penasaran.
Irfan masih
menatapnya, penasaran dan berusaha meneliti wajahnya. Karena dia masih
nggak ciren Sabila ggak pake kacamata. Sabila sendiri yang masih
berbalik badan heran, apa yang mau dilakukan irfan. Namun, pikiran
sabila terhenti, dan dia membeku tak tau mau berbuat apa.
Mikropon MC yang rese berbunyi dengan suara bu Muji, tampaknya Sabila tak mendegarnya.
"Bagi yang merupakan siswa IX E harap ke atas panggung sekarang untuk berfoto. terimakasih"
Kalimat
itu terus diulang dengan suara MC yang lain, karena siswa belum lengkap
diatas panggung termasuk Sabila yang masih membeku di hadapan Irfan.
Namun, dalam detik itu juga tangan Sabila ditarik temannya.
Dengan
berlari Sabila ditariknya, temannya itu juga bilang kalau mereka harus
bergegas, karena Bu Muji sudah tidak sabar menunggu.
"Lekas dikit sih,Sab!" kata temannya sambil menarik Sabila.
#
Di
tempat lain Irfan merasa aneh, anak itu selalu saja hilang tiba-tiba,
padahal kan dia ingin bicara. Dia sangat penasaran sekali terhadap anak
itu, bahkan Irfan saja tak tahu namanya.
Tiba-tiba Yuni datang..
"Lho.. Irfan!" Yuni terbelalak melihat Irfan disini
Irfan terdiam, dia masih bingung.
"Mana dia?" Yuni mencari-cari Sabila dengan matanya, dan hasilnya nihil
"Dia
pergi" Irfan menjawabnya dengan cuek lalu langsung meninggalkan Yuni
disana. Dalam sekejap dia sudah berada di tengah2 teman-temannya disana.
"Sabila..." Yuni mengkhawatirkan Sabila.
#
Acara
sudah selesai, mereka berpamitan. Ada yang menangis, tertawa.. dan
lainnya, membawa kenangan tersendiri, Sabila memandang kosong yang ada
di belakangnya. Dia pulang lebih awal.
Teman-temannya, orang yang disukainya, sekolah tersayangnya... semuanya, adalah.. kenangan.
'selamat
tinggal... Irfan' Sabila kembali menoleh kedepan mobil jemputannya yang
sudah menunggu di gerbang, dia berlari, meninggalkan suara haknya yang
nyaring juga dressnya yang melambai-lambai.
Dia sudah di dalam mobil, sudah setengah perjalanan ditempuh untuk sampai dirumahnya.
#
Yuni
sudah puas berfoto dengan Sabila, dia sudah lenyap sekarang.
Tangisannya sudah cukup menjadi kenangan bagi pertemanan mereka. Yuni
menyesal karena dia tidak bisa membantu Sabila,
Irfan.. Dia tidak tahu apa apa.
"Maaf gua gak bisa bantu elo,sab :' " Yuni memandang gerbang yang masih bergerak, tempat terkhir yang dilewati Sabila saat itu.
#
Di Jalan Besar itu, Sabila melamun.
Irfan..
kenapa dia kepikiran itu terus?? sekarang sudah tidak berguna lagi.
Pikirannya kosong, dia terhempas bagai daun yang ditiup angin, dan pasir
yang dikalahkan gelombang. Dia terhempas...
Terhempas...
"Sab!"
"Sab!"
Sabila
tak menyadarinya, secara tidak sadar dia membuka pintu mobil. Kenapa
tiba-tiba dia ingin turun dari sana. Supirnya mengerem,
DRIIIIZZZTTT... bunyi,remnya sangat nyaring,cukup untuk menyelamatkan Sabila, cukup untuk membuat mobil itu berhenti. Namun,
Truk
besar di belakangnya tak mampu menahan lajunya yang kencang, Mobil
Sabila terdorong dengan secepat kilat kedepan, Truk itu yang
melakukannya dengn tidak sengaja menabrak sebuah bangunan. Sabila kali
ini benar benar terhampar secara realitas.. supirnya tewas.
dia masih di alam bawah sadarnya, sabila terdampar di bawah reruntuhan, mobilnya sudah tidak beraturan.
Kelopak mata sabila tertutup
#
Kabel infus, kasur yang keras, selimut bergaris, Bau obat...
Sabila terbatuk.
"Sab? kamu nggak papa?"
".." sabila terdiam dia masih kesakitan, badannya serasa remuk, dan mulutnya tak kuasa bicara
"Dia bangun!"
Sabila
merasa pusing, pengelihatan matanya sangat kabur semua warna tercampur
jadi satu. Semua orang mengeilingi Sabila, dia pusing. Sabila
mengedipkan matanya berkali-kali agar bisa terlihat jelas. Namun, tak
kunjung juga. Akhirnya dia menangis dan memeluk siapapun yang ada
didepannya.
"ah....ma, ma.." Sabila berusaha menebak siapa didepannya.
"iya, nak.. ini mama, ini mama.." Mama mengusap air matanya dengan tangan sebelahnya.
"sab.." kata mamanya lagi
"Sabila
kamu udah bangun?!" sosok disebelah mama, menerjangnya dengan lembut
mengusap kepalanya dan memegang erat tangan Sabila.
"Saras...." Sabila berbicara jelas sekarang namun nafasnya sesekali tidak kuat, Saras adalah kembarannya.
Tiba-tiba dokter datang dan Sabila langsung tertidur.
#
Gimana ? Cerbung ini bakal lanjut sampe Part 15 ! Jangan capek-capek bacanya ya :) soalnya per satu part pendek-pendek kok ;) Tunggu selanjutnya ya :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar